Artikel Tata Surya

Diposting oleh Eko Iyant pada 22:01, 16-Jul-12 • Di: IPTEK


Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar
seribu kali di luar bagian
yang terluar. Berdasarkan jaraknya dari
Matahari, kedelapan planet
Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima objek angkasa
yang diklasifikasikan
sebagai planet kerdil . Orbit planet-planet kerdil, kecuali
Ceres, berada lebih jauh
dari Neptunus. Kelima
planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya
diklasifikasikan sebagai
planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya
diklasifikasikan sebagai
planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km). Enam dari kedelapan planet
dan tiga dari kelima planet
kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami. Masing- masing planet bagian luar
dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan
partikel lain. Asal usul Banyak hipotesis tentang
asal usul Tata Surya telah
dikemukakan para ahli,
beberapa di antaranya
adalah: Pierre-Simon Laplace,
pendukung Hipotesis
Nebula Gerard Kuiper,
pendukung Hipotesis
Kondensasi Hipotesis Nebula Hipotesis nebula pertama
kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772)[1] tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan
oleh Pierre Marquis de Laplace[2] secara independen pada tahun 1796. Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan
Hipotesis Nebula Kant-
Laplace, menyebutkan
bahwa pada tahap awal,
Tata Surya masih berupa
kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula, dan unsur gas yang
sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang
dimilikinya menyebabkan
kabut itu menyusut dan
berputar dengan arah
tertentu, suhu kabut
memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa
(matahari). Matahari
raksasa terus menyusut
dan berputar semakin
cepat, dan cincin-cincin gas
dan es terlontar ke sekeliling Matahari. Akibat gaya gravitasi , gas-gas tersebut memadat seiring
dengan penurunan suhunya
dan membentuk planet dalam dan planet luar. Laplace berpendapat
bahwa orbit berbentuk
hampir melingkar dari
planet-planet merupakan
konsekuensi dari pembentukan mereka. [3] Hipotesis Planetisimal Hipotesis planetisimal
pertama kali dikemukakan
oleh Thomas C. Chamberlin dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan
bahwa Tata Surya kita
terbentuk akibat adanya
bintang lain yang lewat
cukup dekat dengan
Matahari, pada masa awal pembentukan Matahari.
Kedekatan tersebut
menyebabkan terjadinya
tonjolan pada permukaan
Matahari, dan bersama
proses internal Matahari, menarik materi berulang
kali dari Matahari. Efek
gravitasi bintang
mengakibatkan
terbentuknya dua lengan
spiral yang memanjang dari Matahari. Sementara
sebagian besar materi
tertarik kembali, sebagian
lain akan tetap di orbit,
mendingin dan memadat,
dan menjadi benda-benda berukuran kecil yang
mereka sebut planetisimal dan beberapa yang besar
sebagai protoplanet. Objek- objek tersebut bertabrakan
dari waktu ke waktu dan
membentuk planet dan
bulan, sementara sisa-sisa
materi lainnya menjadi
komet dan asteroid. Hipotesis Pasang Surut
Bintang Hipotesis pasang surut
bintang pertama kali
dikemukakan oleh James Jeans pada tahun 1917. Planet dianggap terbentuk
karena mendekatnya
bintang lain kepada
Matahari. Keadaan yang
hampir bertabrakan
menyebabkan tertariknya sejumlah besar materi dari
Matahari dan bintang lain
tersebut oleh gaya pasang surut bersama mereka, yang kemudian
terkondensasi menjadi planet.[3] Namun astronom Harold Jeffreys tahun 1929 membantah bahwa
tabrakan yang sedemikian
itu hampir tidak mungkin terjadi. [3] Demikian pula astronom Henry Norris Russell mengemukakan keberatannya atas hipotesis tersebut. [4] Hipotesis Kondensasi Hipotesis kondensasi
mulanya dikemukakan oleh
astronom Belanda yang
bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa Tata
Surya terbentuk dari bola
kabut raksasa yang
berputar membentuk
cakram raksasa. Hipotesis Bintang Kembar Hipotesis bintang kembar
awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa
dahulunya Tata Surya kita
berupa dua bintang yang
hampir sama ukurannya
dan berdekatan yang salah
satunya meledak meninggalkan serpihan-
serpihan kecil. Serpihan itu
terperangkap oleh gravitasi
bintang yang tidak meledak
dan mulai mengelilinginya. Sejarah
penemuan Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius , Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu
karena mereka semua bisa
dilihat dengan mata
telanjang. Banyak bangsa di
dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-
masing planet. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
pengamatan pada lima abad
lalu membawa manusia
untuk memahami benda-
benda langit terbebas dari selubung mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan mata
manusia "lebih tajam"
dalam mengamati benda
langit yang tidak bisa
diamati melalui mata
telanjang. Karena teleskop Galileo
bisa mengamati lebih tajam,
ia bisa melihat berbagai
perubahan bentuk
penampakan Venus, seperti Venus Sabit atau
Venus Purnama sebagai
akibat perubahan posisi
Venus terhadap Matahari.
Penalaran Venus mengitari
Matahari makin memperkuat teori heliosentris, yaitu bahwa Matahari adalah pusat alam
semesta, bukan Bumi, yang
sebelumnya digagas oleh Nicolaus Copernicus (1473-1543). Susunan
heliosentris adalah Matahari
dikelilingi oleh Merkurius hingga Saturnus. Model heliosentris dalam manuskrip Copernicus . Teleskop Galileo terus
disempurnakan oleh
ilmuwan lain seperti Christian Huygens (1629-1695) yang
menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada
hampir 2 kali jarak orbit Bumi-Yupiter. Perkembangan teleskop
juga diimbangi pula dengan
perkembangan perhitungan
gerak benda-benda langit
dan hubungan satu dengan
yang lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi . Dengan dua teori
perhitungan inilah yang
memungkinkan pencarian
dan perhitungan benda-
benda langit selanjutnya Pada 1781, William Herschel (1738-1822) menemukan Uranus. Perhitungan cermat orbit
Uranus menyimpulkan
bahwa planet ini ada yang
mengganggu. Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup
menjelaskan gangguan
orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930. Pada saat Pluto ditemukan,
ia hanya diketahui sebagai
satu-satunya objek
angkasa yang berada
setelah Neptunus.
Kemudian pada 1978, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto
ditemukan, sebelumnya
sempat dikira sebagai
planet yang sebenarnya
karena ukurannya tidak
berbeda jauh dengan Pluto. Para astronom kemudian
menemukan sekitar 1.000
objek kecil lainnya yang
letaknya melampaui
Neptunus (disebut objek trans-Neptunus ), yang juga mengelilingi Matahari. Di
sana mungkin ada sekitar
100.000 objek serupa yang
dikenal sebagai Objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari
objek-objek trans-
Neptunus). Belasan benda
langit termasuk dalam
Objek Sabuk Kuiper di
antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta , Pallas, Hygiea, Varuna , dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004). Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan
karena Objek Sabuk Kuiper
ini diketahui juga memiliki
satelit pada Januari 2005
meskipun berukuran lebih
kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah
penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober
2003) yang diberi nama oleh
penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, objek
ini juga memiliki satelit. Struktur Perbanding relatif massa
planet. Yupiter adalah 71%
dari total dan Saturnus 21%.
Merkurius dan Mars, yang
total bersama hanya kurang
dari 0.1% tidak nampak dalam diagram di atas. Orbit-orbit Tata Surya
dengan skala yang
sesungguhnya Illustrasi skala Komponen utama sistem
Tata Surya adalah matahari, sebuah bintang deret utama kelas G2 yang mengandung
99,86 persen massa dari
sistem dan mendominasi
seluruh dengan gaya gravitasinya. [5]Yupiter dan Saturnus, dua komponen terbesar yang mengedari
Matahari, mencakup kira-
kira 90 persen massa selebihnya.[c] Hampir semua objek-objek
besar yang mengorbit
Matahari terletak pada
bidang edaran bumi, yang umumnya dinamai ekliptika . Semua planet terletak sangat dekat pada ekliptika,
sementara komet dan
objek-objek sabuk Kuiper
biasanya memiliki beda
sudut yang sangat besar
dibandingkan ekliptika. Planet-planet dan objek-
objek Tata Surya juga
mengorbit mengelilingi
Matahari berlawanan
dengan arah jarum jam jika
dilihat dari atas kutub utara Matahari, terkecuali Komet Halley. Hukum Gerakan Planet
Kepler menjabarkan bahwa orbit dari objek-objek Tata
Surya sekeliling Matahari
bergerak mengikuti bentuk
elips dengan Matahari
sebagai salah satu titik
fokusnya. Objek yang berjarak lebih dekat dari
Matahari (sumbu semi-
mayor-nya lebih kecil)
memiliki tahun waktu yang
lebih pendek. Pada orbit
elips, jarak antara objek dengan Matahari bervariasi
sepanjang tahun. Jarak
terdekat antara objek
dengan Matahari dinamai perihelion, sedangkan jarak terjauh dari Matahari
dinamai aphelion. Semua objek Tata Surya bergerak
tercepat di titik perihelion
dan terlambat di titik
aphelion. Orbit planet-planet
bisa dibilang hampir
berbentuk lingkaran, sedangkan komet, asteroid
dan objek sabuk Kuiper
kebanyakan orbitnya
berbentuk elips. Untuk mempermudah
representasi, kebanyakan
diagram Tata Surya
menunjukan jarak antara
orbit yang sama antara satu
dengan lainnya. Pada kenyataannya, dengan
beberapa perkecualian,
semakin jauh letak sebuah
planet atau sabuk dari
Matahari, semakin besar
jarak antara objek itu dengan jalur edaran orbit
sebelumnya. Sebagai
contoh, Venus terletak sekitar sekitar 0,33 satuan astronomi (SA) lebih dari Merkurius [d], sedangkan Saturnus adalah 4,3 SA dari Yupiter, dan Neptunus terletak 10,5 SA dari Uranus. Beberapa upaya telah dicoba untuk
menentukan korelasi jarak
antar orbit ini (hukum Titus-
Bode), tetapi sejauh ini tidak
satu teori pun telah
diterima. Hampir semua planet-
planet di Tata Surya juga
memiliki sistem sekunder.
Kebanyakan adalah benda
pengorbit alami yang
disebut satelit. Beberapa benda ini memiliki ukuran
lebih besar dari planet.
Hampir semua satelit alami yang paling besar terletak di
orbit sinkron, dengan satu
sisi satelit berpaling ke arah
planet induknya secara
permanen. Empat planet
terbesar juga memliki cincin yang berisi partikel-partikel
kecil yang mengorbit secara
serempak. Terminologi Secara informal, Tata Surya
dapat dibagi menjadi tiga
daerah. Tata Surya bagian
dalam mencakup empat planet kebumian dan sabuk asteroid utama. Pada daerah yang lebih jauh, Tata
Surya bagian luar, terdapat
empat gas planet raksasa. [6] Sejak ditemukannya Sabuk Kuiper, bagian terluar Tata Surya dianggap
wilayah berbeda tersendiri
yang meliputi semua objek melampaui Neptunus.[7] Secara dinamis dan fisik,
objek yang mengorbit matahari dapat diklasifikasikan dalam tiga
golongan: planet, planet kerdil, dan benda kecil Tata Surya. Planet adalah sebuah badan yang
mengedari Matahari dan
mempunyai massa cukup
besar untuk membentuk
bulatan diri dan telah
membersihkan orbitnya dengan
menginkorporasikan semua
objek-objek kecil di
sekitarnya. Dengan definisi
ini, Tata Surya memiliki
delapan planet: Merkurius , Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, dan Neptunus. Pluto telah dilepaskan status planetnya karena
tidak dapat membersihkan
orbitnya dari objek-objek Sabuk Kuiper. [8] Planet kerdil adalah benda
angkasa bukan satelit yang
mengelilingi Matahari,
mempunyai massa yang
cukup untuk bisa
membentuk bulatan diri tetapi belum dapat
membersihkan daerah sekitarnya. [8] Menurut definisi ini, Tata Surya
memiliki lima buah planet
kerdil: Ceres, Pluto, Haumea, Makemake, dan Eris.[9] Objek lain yang mungkin akan
diklasifikasikan sebagai
planet kerdil adalah: Sedna, Orcus, dan Quaoar. Planet kerdil yang memiliki orbit di
daerah trans-Neptunus
biasanya disebut "plutoid". [10] Sisa objek-objek lain berikutnya yang mengitari
Matahari adalah benda kecil Tata Surya. [8] Ilmuwan ahli planet
menggunakan istilah gas,
es, dan batu untuk
mendeskripsi kelas zat
yang terdapat di dalam Tata
Surya. Batu digunakan untuk menamai bahan
bertitik lebur tinggi (lebih
besar dari 500 K), sebagai
contoh silikat. Bahan batuan ini sangat umum terdapat di
Tata Surya bagian dalam,
merupakan komponen
pembentuk utama hampir
semua planet kebumian dan
asteroid. Gas adalah bahan- bahan bertitik lebur rendah
seperti atom hidrogen,
helium, dan gas mulia,
bahan-bahan ini
mendominasi wilayah
tengah Tata Surya, yang didominasi oleh Yupiter dan
Saturnus. Sedangkan es,
seperti air, metana, amonia dan karbon dioksida ,[11] memiliki titik lebur sekitar
ratusan derajat kelvin.
Bahan ini merupakan
komponen utama dari
sebagian besar satelit
planet raksasa. Ia juga merupakan komponen
utama Uranus dan Neptunus (yang sering disebut "es raksasa"wink, serta
berbagai benda kecil yang
terletak di dekat orbit Neptunus.[12] Istilah volatiles mencakup
semua bahan bertitik didih
rendah (kurang dari ratusan
kelvin), yang termasuk gas
dan es; tergantung pada
suhunya, 'volatiles' dapat ditemukan sebagai es,
cairan, atau gas di berbagai
bagian Tata Surya. Zona planet Zona Tata Surya yang
meliputi, planet bagian
dalam, sabuk asteroid, planet
bagian luar, dan sabuk Kuiper. (Gambar tidak sesuai skala) Di zona planet dalam, Matahari adalah pusat Tata Surya dan letaknya paling
dekat dengan planet Merkurius (jarak dari Matahari 57,9 × 10 6 km, atau 0,39 SA), Venus (108,2 × 106 km, 0,72 SA), Bumi (149,6 × 106 km, 1 SA) dan Mars (227,9 × 106 km, 1,52 SA). Ukuran diameternya antara
4.878 km dan 12.756 km,
dengan massa jenis antara 3,95 g/cm3 dan 5,52 g/cm3. Antara Mars dan Yupiter terdapat daerah yang
disebut sabuk asteroid , kumpulan batuan metal dan
mineral. Kebanyakan
asteroid-asteroid ini hanya
berdiameter beberapa
kilometer (lihat: Daftar
asteroid), dan beberapa memiliki diameter 100 km
atau lebih. Ceres, bagian dari kumpulan asteroid ini,
berukuran sekitar 960 km
dan dikategorikan sebagai planet kerdil . Orbit asteroid- asteroid ini sangat eliptis,
bahkan beberapa
menyimpangi Merkurius (Icarus) dan Uranus (Chiron). Pada zona planet luar,
terdapat planet gas raksasa Yupiter (778,3 × 106 km, 5,2 SA), Uranus (2,875 × 109 km, 19,2 SA) dan Neptunus (4,504 × 109 km, 30,1 SA) dengan massa jenis antara 0,7 g/cm3 dan 1,66 g/cm3. Jarak rata-rata antara
planet-planet dengan
Matahari bisa diperkirakan
dengan menggunakan baris
matematis Titus-Bode.
Regularitas jarak antara jalur edaran orbit-orbit ini
kemungkinan merupakan
efek resonansi sisa dari
awal terbentuknya Tata
Surya. Anehnya, planet Neptunus tidak muncul di baris matematis Titus-
Bode, yang membuat para
pengamat berspekulasi
bahwa Neptunus
merupakan hasil tabrakan
kosmis. Matahari Artikel utama untuk bagian ini adalah: Matahari Matahari dilihat dari
spektrum sinar-X Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan
merupakan komponen
utama sistem Tata Surya
ini. Bintang ini berukuran 332.830 massa bumi. Massa yang besar ini
menyebabkan kepadatan
inti yang cukup besar untuk
bisa mendukung
kesinambungan fusi nuklir dan menyemburkan
sejumlah energi yang
dahsyat. Kebanyakan
energi ini dipancarkan ke
luar angkasa dalam bentuk
radiasi eletromagnetik, termasuk spektrum optik. Matahari dikategorikan ke
dalam bintang kerdil kuning
(tipe G V) yang berukuran
tengahan, tetapi nama ini
bisa menyebabkan
kesalahpahaman, karena dibandingkan dengan
bintang-bintang yang ada di
dalam galaksi Bima Sakti,
Matahari termasuk cukup
besar dan cemerlang.
Bintang diklasifikasikan dengan diagram Hertzsprung-Russell , yaitu sebuah grafik yang
menggambarkan hubungan
nilai luminositas sebuah bintang terhadap suhu
permukaannya. Secara
umum, bintang yang lebih
panas akan lebih
cemerlang. Bintang-bintang
yang mengikuti pola ini dikatakan terletak pada deret utama , dan Matahari letaknya persis di tengah
deret ini. Akan tetapi,
bintang-bintang yang lebih
cemerlang dan lebih panas
dari Matahari adalah langka,
sedangkan bintang-bintang yang lebih redup dan dingin adalah umum.[13] Dipercayai bahwa posisi
Matahari pada deret utama
secara umum merupakan
"puncak hidup" dari sebuah
bintang, karena belum
habisnya hidrogen yang tersimpan untuk fusi nuklir.
Saat ini Matahari tumbuh
semakin cemerlang. Pada
awal kehidupannya, tingkat
kecemerlangannya adalah
sekitar 70 persen dari kecermelangan sekarang. [14] Matahari secara metalisitas dikategorikan sebagai
bintang "populasi I". Bintang
kategori ini terbentuk lebih
akhir pada tingkat evolusi alam semesta, sehingga mengandung lebih banyak
unsur yang lebih berat
daripada hidrogen dan
helium ("metal" dalam
sebutan astronomi)
dibandingkan dengan bintang "populasi II".[15] Unsur-unsur yang lebih
berat daripada hidrogen dan helium terbentuk di dalam inti bintang purba yang
kemudian meledak.
Bintang-bintang generasi
pertama perlu punah
terlebih dahulu sebelum
alam semesta dapat dipenuhi oleh unsur-unsur
yang lebih berat ini. Bintang-bintang tertua
mengandung sangat sedikit
metal, sedangkan bintang
baru mempunyai
kandungan metal yang lebih
tinggi. Tingkat metalitas yang tinggi ini diperkirakan
mempunyai pengaruh
penting pada pembentukan
sistem Tata Surya, karena
terbentuknya planet adalah
hasil penggumpalan metal. [16] Medium antarplanet Lembar aliran heliosfer,
karena gerak rotasi
magnetis Matahari terhadap
medium antarplanet. Di samping cahaya, matahari juga secara berkesinambungan
memancarkan semburan
partikel bermuatan
(plasma) yang dikenal sebagai angin surya. Semburan partikel ini
menyebar keluar kira-kira
pada kecepatan 1,5 juta kilometer per jam, [17] menciptakan atmosfer tipis
(heliosfer) yang merambah Tata Surya paling tidak
sejauh 100 SA (lihat juga heliopause). Kesemuanya ini disebut medium
antarplanet. Badai geomagnetis pada
permukaan Matahari,
seperti semburan Matahari (solar flares) dan lontaran massa korona (coronal mass ejection)
menyebabkan gangguan
pada heliosfer,
menciptakan cuaca ruang angkasa.[18] Struktur terbesar dari heliosfer
dinamai lembar aliran
heliosfer (heliospheric
current sheet), sebuah
spiral yang terjadi karena
gerak rotasi magnetis Matahari terhadap medium antarplanet. [19][20]Medan magnet bumi mencegah atmosfer bumi berinteraksi dengan angin surya. Venus dan Mars yang tidak memiliki medan magnet,
atmosfernya habis terkikis ke luar angkasa. [21] Interaksi antara angin surya
dan medan magnet bumi
menyebabkan terjadinya aurora, yang dapat dilihat dekat kutub magnetik bumi. Heliosfer juga berperan
melindungi Tata Surya dari sinar kosmik yang berasal dari luar Tata Surya. Medan
magnet planet-planet
menambah peran
perlindungan selanjutnya.
Densitas sinar kosmik pada medium antarbintang dan kekuatan medan magnet
Matahari mengalami
perubahan pada skala
waktu yang sangat panjang,
sehingga derajat radiasi
kosmis di dalam Tata Surya sendiri adalah bervariasi,
meski tidak diketahui seberapa besar.[22] Medium antarplanet juga
merupakan tempat
beradanya paling tidak dua
daerah mirip piringan yang
berisi debu kosmis. Yang
pertama, awan debu zodiak, terletak di Tata Surya
bagian dalam dan
merupakan penyebab
cahaya zodiak. Ini
kemungkinan terbentuk dari
tabrakan dalam sabuk asteroid yang disebabkan oleh interaksi dengan planet-planet.[23] Daerah kedua membentang antara
10 SA sampai sekitar 40
SA, dan mungkin
disebabkan oleh tabrakan
yang mirip tetapi tejadi di dalam Sabuk Kuiper.[24][25] Tata Surya bagian
dalam Tata Surya bagian dalam
adalah nama umum yang
mencakup planet kebumian dan asteroid. Terutama terbuat dari silikat dan logam, objek dari Tata
Surya bagian dalam
melingkup dekat dengan matahari, radius dari seluruh daerah ini lebih
pendek dari jarak antara
Yupiter dan Saturnus. Planet-planet bagian
dalam Artikel utama untuk bagian ini adalah: Planet kebumian Planet-planet bagian dalam.
Dari kiri ke kanan: Merkurius , Venus, Bumi, dan Mars (ukuran menurut skala) Empat planet bagian dalam atau planet kebumian
(terrestrial planet) memiliki
komposisi batuan yang
padat, hampir tidak
mempunyai atau tidak
mempunyai satelit dan tidak mempunyai sistem cincin.
Komposisi Planet-planet ini
terutama adalah mineral
bertitik leleh tinggi, seperti
silikat yang membentuk
kerak dan selubung, dan logam seperti besi dan nikel
yang membentuk intinya.
Tiga dari empat planet ini
(Venus, Bumi dan Mars) memiliki atmosfer , semuanya memiliki kawah
meteor dan sifat-sifat
permukaan tektonis seperti
gunung berapi dan lembah
pecahan. Planet yang
letaknya di antara Matahari dan bumi (Merkurius dan Venus) disebut juga planet inferior. Merkurius Merkurius (0,4 SA dari Matahari) adalah planet
terdekat dari Matahari
serta juga terkecil
(0,055 massa bumi).
Merkurius tidak memiliki
satelit alami dan ciri geologisnya di samping
kawah meteorid yang
diketahui adalah lobed
ridges atau rupes,
kemungkinan terjadi
karena pengerutan pada perioda awal sejarahnya. [26] Atmosfer Merkurius
yang hampir bisa
diabaikan terdiri dari
atom-atom yang
terlepas dari
permukaannya karena semburan angin surya. [27] Besarnya inti besi dan tipisnya kerak
Merkurius masih belum
bisa dapat diterangkan.
Menurut dugaan
hipotesa lapisan luar
planet ini terlepas setelah terjadi tabrakan
raksasa, dan
perkembangan
("akresi"wink penuhnya
terhambat oleh energi awal Matahari. [28][29] Venus Venus (0,7 SA dari Matahari) berukuran
mirip bumi (0,815
massa bumi). Dan
seperti bumi, planet ini memiliki selimut kulit
silikat yang tebal dan
berinti besi,
atmosfernya juga tebal
dan memiliki aktivitas
geologi. Akan tetapi planet ini lebih kering
dari bumi dan
atmosfernya sembilan
kali lebih padat dari
bumi. Venus tidak
memiliki satelit. Venus adalah planet terpanas
dengan suhu
permukaan mencapai
400 °C, kemungkinan
besar disebabkan
jumlah gas rumah kaca yang terkandung di dalam atmosfer. [30] Sejauh ini aktivitas
geologis Venus belum
dideteksi, tetapi karena
planet ini tidak memiliki
medan magnet yang
bisa mencegah habisnya atmosfer, diduga
sumber atmosfer
Venus berasal dari gunung berapi.[31] Bumi Bumi (1 SA dari Matahari) adalah planet
bagian dalam yang
terbesar dan terpadat,
satu-satunya yang
diketahui memiliki
aktivitas geologi dan satu-satunya planet
yang diketahui memiliki
mahluk hidup.
Hidrosfer-nya yang cair
adalah khas di antara
planet-planet kebumian dan juga merupakan
satu-satunya planet
yang diamati memiliki
lempeng tektonik.
Atmosfer bumi sangat
berbeda dibandingkan planet-planet lainnya,
karena dipengaruhi oleh
keberadaan mahluk
hidup yang
menghasilkan 21% oksigen.[32] Bumi memiliki satu satelit, bulan, satu-satunya satelit besar dari planet
kebumian di dalam Tata
Surya. Mars Mars (1,5 SA dari Matahari) berukuran
lebih kecil dari bumi dan
Venus (0,107 massa
bumi). Planet ini
memiliki atmosfer tipis
yang kandungan utamanya adalah karbon dioksida. Permukaan Mars yang dipenuhi
gunung berapi raksasa
seperti Olympus Mons dan lembah retakan
seperti Valles
marineris, menunjukan
aktivitas geologis yang
terus terjadi sampai
baru belakangan ini. Warna merahnya
berasal dari warna karat
tanahnya yang kaya besi.[33] Mars mempunyai dua satelit
alami kecil (Deimos dan Phobos) yang diduga merupakan asteroid yang terjebak gravitasi Mars.[34] Sabuk asteroid Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sabuk asteroid Sabuk asteroid utama dan
asteroid Troya Asteroid secara umum adalah objek Tata Surya
yang terdiri dari batuan dan mineral logam beku.[35] Sabuk asteroid utama terletak di antara orbit Mars dan Yupiter, berjarak antara 2,3 dan 3,3 SA dari matahari, diduga merupakan sisa dari bahan
formasi Tata Surya yang
gagal menggumpal karena
pengaruh gravitasi Yupiter. [36] Gradasi ukuran asteroid
adalah ratusan kilometer
sampai mikroskopis.
Semua asteroid, kecuali Ceres yang terbesar, diklasifikasikan sebagai benda kecil Tata Surya . Beberapa asteroid seperti Vesta dan Hygiea mungkin akan diklasifikasi sebagai planet kerdil jika terbukti telah mencapai
kesetimbangan hidrostatik. [37] Sabuk asteroid terdiri dari
beribu-ribu, mungkin jutaan
objek yang berdiameter satu kilometer. [38] Meskipun demikian, massa
total dari sabuk utama ini
tidaklah lebih dari
seperseribu massa bumi. [39] Sabuk utama tidaklah rapat, kapal ruang angkasa
secara rutin menerobos
daerah ini tanpa mengalami
kecelakaan. Asteroid yang
berdiameter antara 10 dan 10−4 m disebut meteorid. [40] Ceres Ceres Ceres (2,77 SA) adalah benda terbesar di sabuk
asteroid dan
diklasifikasikan sebagai
planet kerdil. Diameternya
adalah sedikit kurang dari
1000 km, cukup besar untuk memiliki gravitasi sendiri
untuk menggumpal
membentuk bundaran.
Ceres dianggap sebagai
planet ketika ditemukan
pada abad ke 19, tetapi di- reklasifikasi menjadi
asteroid pada tahun 1850an
setelah observasi lebih
lanjut menemukan beberapa asteroid lagi. [41] Ceres direklasifikasi lanjut
pada tahun 2006 sebagai
planet kerdil. Kelompok asteroid Asteroid pada sabuk utama dibagi menjadi kelompok
dan keluarga asteroid
bedasarkan sifat-sifat
orbitnya. satelit asteroid
adalah asteroid yang
mengedari asteroid yang lebih besar. Mereka tidak
mudah dibedakan dari
satelit-satelit planet, kadang
kala hampir sebesar
pasangannya. Sabuk
asteroid juga memiliki komet sabuk utama yang
mungkin merupakan sumber air bumi.[42] Asteroid-asteroid Trojan
terletak di titik L 4 atau L5Yupiter (daerah gravitasi stabil yang berada di depan
dan belakang sebuah orbit
planet), sebutan "trojan"
sering digunakan untuk
objek-objek kecil pada Titik
Langrange dari sebuah planet atau satelit.
Kelompok Asteroid Hilda
terletak di orbit resonansi
2:3 dari Yupiter, yang
artinya kelompok ini
mengedari Matahari tiga kali untuk setiak dua edaran Yupiter. Bagian dalam Tata Surya
juga dipenuhi oleh asteroid
liar, yang banyak memotong
orbit-orbit planet planet
bagian dalam. Tata Surya bagian
luar Pada bagian luar dari Tata
Surya terdapat gas-gas
raksasa dengan satelit-
satelitnya yang berukuran
planet. Banyak komet
berperioda pendek termasuk beberapa
Centaur, juga berorbit di
daerah ini. Badan-badan
padat di daerah ini
mengandung jumlah volatil
(contoh: air, amonia, metan, yang sering disebut "es"
dalam peristilahan ilmu
keplanetan) yang lebih
tinggi dibandingkan planet
batuan di bagian dalam Tata
Surya. Planet-planet luar Artikel utama untuk bagian ini adalah: Raksasa gas Raksasa-raksasa gas dalam
Tata Surya dan Matahari,
berdasarkan skala Keempat planet luar, yang
disebut juga planet raksasa
gas (gas giant), atau planet jovian, secara keseluruhan mencakup 99 persen
massa yang mengorbit
Matahari. Yupiter dan
Saturnus sebagian besar
mengandung hidrogen dan helium; Uranus dan Neptunus memiliki proporsi
es yang lebih besar. Para
astronom mengusulkan
bahwa keduanya
dikategorikan sendiri sebagai raksasa es.[43] Keempat raksasa gas ini
semuanya memiliki cincin,
meski hanya sistem cincin
Saturnus yang dapat dilihat
dengan mudah dari bumi. Yupiter Yupiter (5,2 SA), dengan 318 kali massa bumi,
adalah 2,5 kali massa
dari gabungan seluruh
planet lainnya.
Kandungan utamanya
adalah hidrogen dan helium. Sumber panas di dalam Yupiter
menyebabkan timbulnya
beberapa ciri semi-
permanen pada
atmosfernya, sebagai
contoh pita pita awan dan Bintik Merah Raksasa. Sejauh yang diketahui Yupiter
memiliki 63 satelit.
Empat yang terbesar, Ganymede, Callisto, Io, dan Europa menampakan kemiripan
dengan planet
kebumian, seperti
gunung berapi dan inti yang panas.[44] Ganymede, yang
merupakan satelit
terbesar di Tata Surya,
berukuran lebih besar
dari Merkurius. Saturnus Saturnus (9,5 SA) yang dikenal dengan sistem
cincinnya, memiliki
beberapa kesamaan
dengan Yupiter, sebagai
contoh komposisi
atmosfernya. Meskipun Saturnus hanya sebesar
60% volume Yupiter,
planet ini hanya seberat
kurang dari sepertiga
Yupiter atau 95 kali
massa bumi, membuat planet ini sebuah planet
yang paling tidak padat
di Tata Surya. Saturnus
memiliki 60 satelit yang
diketahui sejauh ini (dan
3 yang belum dipastikan) dua di
antaranya Titan dan Enceladus, menunjukan activitas geologis, meski
hampir terdiri hanya dari es saja.[45] Titan berukuran lebih besar
dari Merkurius dan merupakan satu-
satunya satelit di Tata
Surya yang memiliki
atmosfer yang cukup
berarti. Uranus Uranus (19,6 SA) yang memiliki 14 kali massa
bumi, adalah planet yang
paling ringan di antara
planet-planet luar.
Planet ini memiliki
kelainan ciri orbit. Uranus mengedari
Matahari dengan
bujkuran poros 90
derajad pada ekliptika . Planet ini memiliki inti
yang sangat dingin
dibandingkan gas
raksasa lainnya dan
hanya sedikit
memancarkan energi panas.[46] Uranus memiliki 27 satelit yang
diketahui, yang terbesar
adalah Titania, Oberon,
Umbriel, Ariel dan
Miranda. Neptunus Neptunus (30 SA) meskipun sedikit lebih
kecil dari Uranus,
memiliki 17 kali massa
bumi, sehingga
membuatnya lebih
padat. Planet ini memancarkan panas
dari dalam tetapi tidak
sebanyak Yupiter atau Saturnus.[47] Neptunus memiliki 13 satelit yang
diketahui. Yang
terbesar, Triton , geologinya aktif, dan
memiliki geyser nitrogen cair.[48] Triton adalah satu-satunya satelit
besar yang orbitnya
terbalik arah
(retrogade). Neptunus
juga didampingi
beberapa planet minor pada orbitnya, yang
disebut Trojan
Neptunus. Benda-benda
ini memiliki resonansi
1:1 dengan Neptunus. Komet Artikel utama untuk bagian ini adalah: Komet Komet Hale-Bopp Komet adalah badan Tata Surya kecil, biasanya hanya
berukuran beberapa
kilometer, dan terbuat dari
es volatil. Badan-badan ini
memiliki eksentrisitas orbit
tinggi, secara umum perihelion-nya terletak di planet-planet bagian dalam
dan letak aphelion-nya lebih jauh dari Pluto. Saat sebuah komet memasuki Tata
Surya bagian dalam,
dekatnya jarak dari
Matahari menyebabkan
permukaan esnya
bersumblimasi dan berionisasi, yang
menghasilkan koma, ekor
gas dan debu panjang, yang
sering dapat dilihat dengan
mata telanjang. Komet berperioda pendek
memiliki kelangsungan orbit
kurang dari dua ratus tahun.
Sedangkan komet
berperioda panjang
memiliki orbit yang berlangsung ribuan tahun.
Komet berperioda pendek
dipercaya berasal dari Sabuk Kuiper, sedangkan komet berperioda panjang,
seperti Hale-bopp, berasal
dari Awan Oort . Banyak kelompok komet, seperti
Kreutz Sungrazers,
terbentuk dari pecahan sebuah induk tunggal.[49] Sebagian komet berorbit
hiperbolik mungking
berasal dari luar Tata
Surya, tetapi menentukan
jalur orbitnya secara pasti sangatlah sulit.[50] Komet tua yang bahan volatilesnya
telah habis karena panas
Matahari sering
dikategorikan sebagai asteroid.[51] Centaur Centaur adalah benda-
benda es mirip komet yang
poros semi-majornya lebih
besar dari Yupiter (5,5 SA) dan lebih kecil dari
Neptunus (30 SA). Centaur
terbesar yang diketahui
adalah, 10199 Chariklo, berdiameter 250 km. [52] Centaur temuan pertama,
2060 Chiron, juga
diklasifikasikan sebagai
komet (95P) karena
memiliki koma sama
seperti komet kalau mendekati Matahari. [53] Beberapa astronom
mengklasifikasikan
Centaurs sebagai objek
sabuk Kuiper sebaran-ke-
dalam (inward-scattered
Kuiper belt objects), seiring dengan sebaran keluar
yang bertempat di piringan tersebar (outward- scattered residents of the scattered disc). [54] Daerah trans-
Neptunus Plot seluruh objek sabuk Kuiper Diagram yang menunjukkan
pembagian sabuk Kuiper Daerah yang terletak jauh
melampaui Neptunus, atau
daerah trans-Neptunus,
sebagian besar belum
dieksplorasi. Menurut
dugaan daerah ini sebagian besar terdiri dari dunia-
dunia kecil (yang terbesar
memiliki diameter
seperlima bumi dan
bermassa jauh lebih kecil
dari bulan) dan terutama mengandung batu dan es.
Daerah ini juga dikenal
sebagai daerah luar Tata
Surya, meskipun berbagai
orang menggunakan istilah
ini untuk daerah yang terletak melebihi sabuk
asteroid. Sabuk Kuiper Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sabuk Kuiper Sabuk Kuiper adalah
sebuah cincin raksasa mirip
dengan sabuk asteroid,
tetapi komposisi utamanya
adalah es. Sabuk ini terletak
antara 30 dan 50 SA, dan terdiri dari benda kecil Tata Surya. Meski demikian, beberapa objek Kuiper yang
terbesar, seperti Quaoar, Varuna , dan Orcus, mungkin akan
diklasifikasikan sebagai planet kerdil . Para ilmuwan memperkirakan terdapat
sekitar 100.000 objek
Sabuk Kuiper yang
berdiameter lebih dari
50 km, tetapi diperkirakan
massa total Sabuk Kuiper hanya sepersepuluh massa bumi.[55] Banyak objek Kuiper memiliki satelit
ganda dan kebanyakan
memiliki orbit di luar bidang
eliptika. Sabuk Kuiper secara kasar
bisa dibagi menjadi "sabuk
klasik" dan resonansi.
Resonansi adalah orbit
yang terkait pada Neptunus
(contoh: dua orbit untuk setiap tiga orbit Neptunus
atau satu untuk setiap dua).
Resonansi yang pertama
bermula pada Neptunus
sendiri. Sabuk klasik terdiri
dari objek yang tidak memiliki resonansi dengan
Neptunus, dan terletak
sekitar 39,4 SA sampai 47,7 SA. [56] Anggota dari sabuk klasik diklasifikasikan
sebagai cubewanos,
setelah anggota jenis
pertamanya ditemukan (15760) 1992QB1 [57] Pluto dan Charon Pluto dan ketiga satelitnya Pluto (rata-rata 39 SA), sebuah planet kerdil, adalah
objek terbesar sejauh ini di
Sabuk Kuiper. Ketika
ditemukan pada tahun 1930,
benda ini dianggap sebagai
planet yang kesembilan, definisi ini diganti pada
tahun 2006 dengan
diangkatnya definisi formal
planet. Pluto memiliki
kemiringan orbit cukup
eksentrik (17 derajat dari bidang ekliptika) dan
berjarak 29,7 SA dari
Matahari pada titik prihelion
(sejarak orbit Neptunus)
sampai 49,5 SA pada titik
aphelion. Tidak jelas apakah Charon, satelit Pluto yang terbesar,
akan terus diklasifikasikan
sebagai satelit atau menjadi
sebuah planet kerdil juga.
Pluto dan Charon, keduanya
mengedari titik barycenter gravitasi di atas
permukaannya, yang
membuat Pluto-Charon
sebuah sistem ganda. Dua
satelit yang jauh lebih kecil
Nix dan Hydra juga mengedari Pluto dan
Charon. Pluto terletak pada
sabuk resonan dan memiliki
3:2 resonansi dengan
Neptunus, yang berarti
Pluto mengedari Matahari dua kali untuk setiap tiga
edaran Neptunus. Objek
sabuk Kuiper yang orbitnya
memiliki resonansi yang sama disebut plutino.[58] Haumea dan Makemake Haumea (rata-rata 43,34 SA) dan Makemake (rata- rata 45,79 SA) adalah dua
objek terbesar sejauh ini di
dalam sabuk Kuiper klasik.
Haumea adalah sebuah
objek berbentuk telur dan
memiliki dua satelit. Makemake adalah objek
paling cemerlang di sabuk
Kuiper setelah Pluto. Pada
awalnya dinamai 2003 EL61 dan 2005 FY9, pada tahun 2008 diberi nama dan
status sebagai planet kerdil.
Orbit keduanya berinklinasi
jauh lebih membujur dari Pluto (28° dan 29°) [59] dan lain seperti Pluto, keduanya tidak dipengaruhi oleh Neptunus, sebagai bagian dari kelompok Objek Sabuk
Kuiper klasik. Piringan tersebar Artikel utama untuk bagian ini adalah: Piringan tersebar Hitam: tersebar; biru: klasik;
hijau: resonan Eris dan satelitnya Dysnomia Piringan tersebar (scattered disc)
berpotongan dengan sabuk
Kuiper dan menyebar
keluar jauh lebih luas.
Daerah ini diduga
merupakan sumber komet berperioda pendek. Objek
piringan tersebar diduga
terlempar ke orbit yang
tidak menentu karena
pengaruh gravitasi dari
gerakan migrasi awal Neptunus. Kebanyakan
objek piringan tersebar
(scattered disc objects,
atau SDO) memiliki
perihelion di dalam sabuk
Kuiper dan apehelion hampir sejauh 150 SA dari
Matahari. Orbit OPT juga
memiliki inklinasi tinggi
pada bidang ekliptika dan
sering hampir bersudut
siku-siku. Beberapa astronom menggolongkan
piringan tersebar hanya
sebagai bagian dari sabuk
Kuiper dan menjuluki
piringan tersebar sebagai
"objek sabuk Kuiper tersebar" (scattered Kuiper belt objects). [60] Eris Eris (rata-rata 68 SA) adalah objek piringan
tersebar terbesar sejauh ini
dan menyebabkan mulainya
debat tentang definisi
planet, karena Eris hanya
5%lebih besar dari Pluto dan memiliki perkiraan
diameter sekitar 2.400 km.
Eris adalah planet kerdil
terbesar yang diketahui dan
memiliki satu satelit, Dysnomia.[61] Seperti Pluto, orbitnya memiliki
eksentrisitas tinggi, dengan
titik perihelion 38,2 SA
(mirip jarak Pluto ke
Matahari) dan titik aphelion
97,6 SA dengan bidang ekliptika sangat membujur. Daerah terjauh Titik tempat Tata Surya
berakhir dan ruang antar
bintang mulai tidaklah
persis terdefinisi. Batasan-
batasan luar ini terbentuk
dari dua gaya tekan yang terpisah: angin surya dan
gravitasi Matahari.
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

3 tanggapan untuk "Artikel Tata Surya"

Padimaz pada 09:34, 17-Jul-12

pertamax gan folback ya gan biggrin

Eko Iyant pada 10:51, 17-Jul-12

@Padimaz,
Anda sdh saya follback

Mohammad Haetami pada 11:48, 17-Jul-12

hehe smile
ditunggu kunbalnya arrow

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar